Editor: Adzka Hanina
Menurutmu, kira-kira apa yang membuat suatu komunitas tetap bertahan di tengah krisis? Barangkali jawabannya tidak selalu pada kekuatan logistik, struktur, atau kepemimpinan formal. Tapi pada satu hal yang jauh lebih mendasar dan manusiawi: kehadiran tangan-tangan yang saling membantu, tanpa pamrih. Dan bila kita perhatikan lebih dekat, tangan-tangan itu seringkali milik para perempuan.
Coba bayangkan satu per satu peristiwa penting dalam sejarah kita. Saat bencana melanda, siapa yang pertama kali menginisiasi dapur umum di gang-gang sempit? Saat harga kebutuhan melonjak dan anak-anak butuh makan, siapa yang dengan cepat menyusun sistem berbagi sembako? Dan ketika negara tak hadir secara cukup, siapa yang diam-diam tetap menjaga agar tentangganya bisa bertahan hidup?
Mari kita ingat saat pandemi COVID-19 melumpuhkan banyak hal. Perempuan justru menjadi tulang punggung yang tak banyak disorot. Mereka membuka dapur umum, mengatur pembagian masker, dan mencatat siapa saja yang belum kebagian bantuan. Di kampung-kampung, mereka membuat grup pesan singkat untuk saling mengabari dan saling menguatkan.
Kerja-kerja itu bukan hal kecil. Ia menjadi jaring pengaman saat sistem kewalahan, dan menjadi nafas bagi komunitas yang nyaris putus asa. Mereka bukan hanya bertahan, tapi menghidupkan: menjaga anak-anak tetap belajar, memastikan lansia tetap makan, dan mendengar keluh kesah yang tak sempat ditampung negara. Dari dapur, dari lorong rumah, dari pesan singkat yang dikirim dini hari, mereka menjaga agar tidak ada yang runtuh.
Tanpa perlu plakat atau panggung, perempuan telah lama menjadi penopang setia dalam tradisi bantu-membantu. Tapi mengapa peran ini jarang disebut sebagai bentuk kepemimpinan? Mengapa solidaritas perempuan seolah dikerdilkan jadi urusan domestik, padahal justru dari dapur itulah kekuatan sosial paling kokoh dibangun?
Mungkin karena kita terlalu terbiasa mengukur kontribusi berdasarkan narasi maskulin: harus vokal, harus terstruktur, harus formal. Padahal, ada bentuk kepemimpinan lain yang berkerja dalam senyap: kepemimpinan yang merawat, mengorganisir, dan menghidupkan nilai.
Di banyak desa dan kota, perempuan membangun sistem bantu-membantu yang bukan hanya bersifat bantuan sesaat, tapi juga berkelanjutan. Mereka tidak sekadar membagikan nasi bungkus atau kebutuhan pokok, tetapi juga menyusun jadwal jaga, mengatur pembagian secara adil, mencatat kebutuhan warga, hingga merancang cara-cara untuk mengumpulkan dana.
Dan ini bukan cerita baru.
Sejarah mencatat, sejak masa penjajahan, perempuan Indonesia sudah aktif dalam organisasi sosial, mendirikan dapur umum, hingga menyuplai logistik bagi para pejuang. Mereka bukan sekadar pelengkap perjuangan, mereka adalah bagian dari detak nadi perlawanan itu sendiri. Namun ironisnya, peran mereka jarang ditulis dalam buku sejarah, apalagi diakui sebagai kepemimpinan strategis.
Perempuan tak sekadar hadir. Mereka menggerakkan, menyala harapan dari balik dapur dan gang sempit. Dengan mata jeli, mereka tahu siapa yang lapar, siapa yang diam-diam lelah, siapa yang nyaris menyerah. Bantuan yang mereka bawa tak hanya isi kantong, tapi juga rasa aman dan pelukan tak terlihat. Mereka meredam konflik dengan tenang, menjaga tetangga tetap saling sapa. Mengajari cara kembali berdiri saat luka mulai reda, perlahan, tapi pasti.
Kita tak perlu menamai segalanya dengan rumit untuk bisa merasakan besarnya arti perjuangan. Cukup dengan membuka mata, memberi ruang, dan mengakui bahwa kerja-kerja ini adalah denyut kehidupan itu sendiri. Gerakan perempuan tak selalu lahir dari panggung atau pengeras suara. Kadang ia tumbuh dari wajan panas di pagi hari, dari kantong plastik berisi nasi hangat, atau dari percakapan di grup warga yang tak pernah benar-benar tidur.
Tapi, mari kita jujur juga. Tradisi bantu-membantu ini sering membebani perempuan dua kali lipat. Sebab di balik wajah yang sigap dan tangan yang cekatan, ada tubuh yang letih dan perasaan yang tak selalu sempat didengar. Karena itulah, mengakui kontribusi perempuan saja tidak cukup. Kita juga perlu membangun sistem yang mendukung mereka agar tidak kelelahan sendirian.
Bagaimana caranya?
Pertama, dengan tidak menganggap remeh kerja-kerja informal. Karena dari situlah kekuatan sosial lahir. Kedua, dengan memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Bukan hanya sebagai relawan, tapi sebagai perancang kebijakan. Ketiga, dengan menciptakan struktur sosial yang memungkinkan solidaritas ini tumbuh lintas gender. Karena membantu bukan hanya tugas perempuan. Itu tugas kita bersama.
Maka dari itu, ketika kita bicara tentang gerakan sosial, jangan lupa menyebut perempuan. Ketika kita merancang program pemulihan atau ketahanan komunitas, libatkan mereka bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai pemimpin. Ketika kita mengulang-ulang kata “damai” atau “keadilan sosial”, pastikan kata-kata itu akan kaya dari pengalaman perempuan.
Sebab pada akhirnya, gerakan sosial yang paling kokoh bukan yang bergema di media sosial, tapi yang terbangun dari kerja kolektif di akar rumput, dan perempuan adalah penjaga api kecil itu.
Jadi, bila hari ini kita berjalan melewati dapur umum, posko solidaritas, atau ruang berbagi apapun, sempatkan tengok ke dalam. Lihat siapa yang sedang sibuk mengatur, menyambut, atau membersihkan. Jangan hanya berterima kasih. Ajak bicara. Ajak mendengar. Lalu pikirkan: bagaimana kita bisa mendukung agar kejra-kerja seperti itu tak hanya bertahan, tapi juga diakui dan diperkuat?
Karena dari wajan dan meja lipat itu, sebenarnya sedang lahir wajah masa depan; yang penuh gotong royong, adil, dan damai.