Bagi perempuan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap bukan sekadar kabut yang menghalangi pandangan. Ia masuk ke rumah, mengganggu pernapasan, menambah pengeluaran keluarga, dan mengancam sumber penghidupan yang dibangun selama bertahun-tahun. Di balik luasnya lahan yang terbakar, ada kehidupan yang perlu didengar dan dipulihkan.
Pengalaman itu mengemuka dalam Open Mic Karhutla: “Udara Bersih adalah Hak Rakyat: Suara Perempuan, Solusi Bersama”, yang diselenggarakan AMAN Indonesia bersama Jaringan Women, Peace and Security (WPS) Indonesia secara daring pada Senin, 26 Oktober 2026. Forum ini menghadirkan perempuan dari wilayah terdampak dan organisasi masyarakat sipil untuk berbagi pengalaman, menyampaikan tuntutan, serta memperkuat solidaritas.
Dalam sambutannya, Country Representative AMAN Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah, mempertanyakan tuntutan agar masyarakat terus bertahan di tengah bencana tanpa diimbangi mitigasi yang serius.
“Kita tidak sedang melihat apakah masyarakat kita tangguh atau tidak, tetapi kita sedang mempertanyakan bagaimana upaya negara dalam melakukan mitigasi.”
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam cerita para perempuan yang berhadapan langsung dengan dampak karhutla.
Hidup di tengah asap, bertahan dengan biaya sendiri
Ibu Yati, perwakilan Jaringan WPS Indonesia Region Kalimantan yang berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat, menceritakan kabut asap yang mulai dirasakan secara masif sejak April dan memuncak pada September. Selama berbulan-bulan, asap tebal dan jarak pandang yang terbatas menjadi bagian dari keseharian warga.
Sementara itu, Mutia Maharani, perempuan muda dari Sumatra Selatan, membagikan pengalaman sesak napas ketika harus tetap beraktivitas di luar ruangan. Ia harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli masker, sementara fasilitas perlindungan di rumahnya terbatas.
“Harga masker KN95 bisa untuk biaya membeli makan tiga hari,” ungkap Mutia.
Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi asap bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan kemampuan ekonomi. Ketika perlindungan kesehatan membutuhkan biaya tambahan, keluarga harus mengatur kembali pengeluaran untuk kebutuhan dasar. Beban ini semakin berat bagi mereka yang kehilangan sumber pendapatan akibat kebakaran.
Ibu Riwun dari Kalimantan Tengah menjelaskan bahwa asap menimbulkan gangguan pernapasan, batuk, dan sesak napas. Ia juga menyoroti kekhawatiran terhadap kesehatan ibu hamil, anak, dan balita. Di tengah situasi itu, perempuan di desanya turut menjadi sukarelawan untuk memadamkan api di lahan gambut. Mereka menghadapi dampak kebakaran sekaligus terlibat dalam upaya meresponsnya.
Ibu Riwun mendorong penyediaan posko, tabung oksigen, pengobatan gratis, serta bantuan untuk menanam kembali kebun yang terbakar. Baginya, pemulihan harus menjangkau kesehatan dan penghidupan masyarakat, bukan berhenti ketika api padam.
Ketika kebun terbakar, masa depan ikut terancam
Dampak kehilangan sumber penghidupan terasa mendalam dalam kesaksian Novenia Ambeua, perempuan adat dari Halmahera. Kebun miliknya dan keluarga terbakar. Ia bahkan hampir kehilangan nyawa ketika berusaha mempertahankan kebun tersebut.
Bagi perempuan adat dan petani di Halmahera, kelapa, pala, dan cengkeh bukan sekadar komoditas. Tanaman itu merupakan hasil kerja bertahun-tahun, sumber pendapatan keluarga, biaya pendidikan anak, dan tabungan untuk masa depan. Ketika kebun terbakar, bukan hanya tanaman yang hilang, tetapi juga harapan yang dirawat selama bertahun-tahun.
Novenia mempertanyakan siapa yang menghitung kerugian perempuan adat ketika kebakaran terjadi. Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh hanya menghitung luas hutan yang terbakar, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan dan waktu yang dibutuhkan keluarga untuk memulihkannya.
“Memulihkan hutan tanpa memulihkan petaninya adalah pemulihan yang belum selesai.”
Ia mendesak pendataan kerugian secara transparan, pemulihan kebun, perlindungan ekonomi bagi keluarga petani, serta pelibatan perempuan adat dalam pengambilan keputusan. Ia juga meminta agar penyebab kebakaran diselidiki secara terbuka dan pihak yang terbukti bersalah dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.
Bagi Novenia, perempuan adat tidak seharusnya hanya diingat ketika dibutuhkan untuk menjaga hutan, lalu diabaikan ketika kehilangan sumber kehidupan akibat bencana ekologis. Mereka adalah pemilik pengetahuan lokal, penjaga sumber penghidupan, sekaligus pihak yang berhak menentukan masa depan wilayahnya.
Solidaritas harus menjadi tindakan nyata
Armayanti Sanusi, Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, mengingatkan pentingnya memperkuat inisiatif lokal dan solidaritas bersama di tengah situasi yang ia sebut sebagai kekerasan struktural. Sementara itu, Nadia Hadad dari Madani Berkelanjutan menyoroti karhutla yang terus berulang dan pentingnya mitigasi yang serius, bukan sekadar menjadikan kemarau panjang sebagai penjelasan.
Perspektif Women, Peace and Security (WPS) mengajak kita melihat pengalaman perempuan secara utuh: dampak yang mereka hadapi, upaya yang mereka lakukan, dan hak mereka untuk berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka. Perempuan bukan hanya penerima bantuan, melainkan pemilik pengetahuan dan bagian penting dari upaya pencegahan serta pemulihan.
Cerita dari Kalimantan, Sumatra, dan Halmahera menunjukkan bahwa solidaritas tidak cukup berhenti pada rasa prihatin. Dukungan perlu menjawab kebutuhan nyata masyarakat terdampak, mulai dari akses perlindungan kesehatan hingga pemulihan sumber penghidupan.
Udara bersih adalah hak setiap orang. Pemulihan yang adil juga harus memastikan masyarakat dapat kembali membangun kehidupannya.
Mari memperkuat solidaritas bersama Minanga Peace Fund
Minanga Peace Fund mengajak publik ikut merawat solidaritas bagi masyarakat yang terdampak krisis ekologis. Mari salurkan donasi melalui kanal resmi Minanga Peace Fund untuk mendukung kerja-kerja solidaritas dan respons kemanusiaan. Setiap dukungan adalah bagian dari upaya bersama agar suara perempuan dan masyarakat terdampak tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi perhatian dan tindakan nyata.
Bersama Minanga Peace Fund, mari memperkuat solidaritas dan mendukung pemulihan kehidupan masyarakat terdampak.
Informasi donasi
Nama penerima: AMAN Indonesia
Nomor rekening: BSI a.n. AMAN Indonesia
7555556677